‘Gothess’ Sebuah Analisis

23/04/2009 at 02:13 (writing for gothic) ()

Gothess Cenderung Suka Lukai Diri Sendiri

MENGAPA remaja seolah-olah memiliki masalah unik dan tidak mudah dipahami? Ungkapan ini mungkin banyak dilontarkan para orangtua, namun bagaimana dengan para remaja sendiri? Sebuah penelitian terbaru di Inggris melakukan analisa tentang pola laku remaja, terutama remaja beraliran gothic atau lebih dikenal dengan sebutan gothess.

emo_collage-297

Melukai diri sendiri yang termasuk gangguan mental serius menjadi salah satu ciri khas remaja beraliran gothic, dibandingkan remaja dari komunitas lain.

Para peneliti University of Glasgow, Skotlandia melakukan survei pada 1.258 remaja dengan kisaran usia remaja (11, 13, 15 dan 17 tahun).

Pada studi tersebut dicatat, sekitar 53 persen yang mengikuti aliran gothic (Goth subculture) mengaku suka mencederai diri sendiri sementara 47 persen lainnya cenderung berusaha untuk mengakhiri hidupnya.

Sepuluh persen dari 93 responden yang merasa memiliki identifikasi dengan aliran goth mengatakan suka mencederai diri sendiri.

Sebenarnya hampir separuh dari remaja mencederai diri sendiri sebelum memutuskan memilih aliran gothic, dengan aliran ini mereka merasa tekanan emosi mereka lebih diperhatikan dan dimengerti.

Melukai diri sendiri seperti: memotong, membakar atau memukul diri sendiri untuk menimbulkan rasa sakit, adalah sebuah cara menunjukkan masalah emosi mereka. Hal tersebut bisa dihubungkan dengan depresi, usaha bunuh diri, dan berbagai masalah kejiwaan dalam kehidupan selanjutnya.

Pengikut aliran Gothic (gothess) ini sangat suka mengenakan baju atau t-shirt warna hitam, make-up putih pucat dan memiliki selera musik rok dan lebih ke arah akar musik punk.

Mereka yang tergabung dalam kelompok tersebut memiliki komunitas dengan ikatan hubungan yang kuat, yang biasanya datang dari berbagai latar belakang seperti perbedaan faktor sosial, keluarga broken-home, merokok, anti kemapanan, penggunaan alkohol, ataupun depresi yang sudah ada sebelumnya, semua masih diperhitungkan dalam penelitian ini.

Robert Young, psikologis yang mengepalai studi ini mengatakan: “Meskipun hanya sebagian kecil para remaja yang diidentifikasi termasuk dalam sub-culture gothic ini, namun rata-rata kecenderungan bunuh diri dan melukai diri sendiri sangat tinggi.

Namun Young mengatakan apapun kelompok yang mereka ikuti, tindakan melukai diri sendiri dan bunuh diri harus diwaspadai, meskipun dalam hal ini para orangtua tak perlu terlalu khawatir jika mereka mengidentifikasi buah hati mereka tergabung dengan kelompok Gothic.

“Daripada melakukan tindakan beresiko, akan lebih baik jika memanfaatkan ikatan kelompok dengan sesuatu yang lebih berguna dan saling mendukung emosi antar sesama anggotanya yang rata-rata adalah kawan sebayanya,” tambah Young yang menyatakan masih akan melakukan studi lebih lanjut.

Dr Michael van Beinum, seorang konsultan anak dan psikologis remaja di Lanarkshire Public Healthcare Trust ikut menyampaikan pendapat pada penelitian yang dimuat di British Medical Journal ini.

Beinum mengatakan dukungan sosial sangat penting untuk para remaja dan membantu mereka menyelesaikan kesulitan yang tengah mereka hadapi, karena itu menemukan teman sebaya dengan dengan minat misalnya seperti kelompok goths bisa membuat mereka bisa lebih menyesuaikan diri.

“Orang dewasa hendaknya harus membantu remaja yang bermasalah, terutama remaja yang pasti tergabung dalam kelompok gothic dan kerap melakukan tindakan beresiko. Kita bisa mempelajari mekanismenya lebih jauh untuk mengatasi masalah tekanan dari dalam ini,” jelas Beinum.

Sementara Avis Johns, dari perwakilan Young Minds menyatakan melukai diri sendiri adalah tindakan serius, laporan ini bisa membantu masyarakat ikut mendukung mekanisme penanggulangan remaja yang lemah secara emosional.

Referensi: Jurnal British Medica, Encarta Dictionary 2006 DVD, www.gothicsubculture.com; http://vampirefreaks.com/

%d bloggers like this: