Gothic Style = Ekspresi Diri

29/03/2009 at 01:08 (writing for gothic) (, )

Penampilan Gothess Mengundang Opini

berlin-punk-things-to-do

KITA mungkin sering berpapasan dengan sekelompok anak muda yang penampilannya terkesan urakan. Cara berpakaian mereka nge-punk. Mereka sepertinya tidak peduli bagaimana pandangan orang terhadap mereka. Namun, bukan berarti mereka tidak punya etika, lho.

Pakaian mereka memang serba aneh. Penampilan mereka tidak seperti layaknya orang pada umumnya. Ternyata kelompok ini sering disebut-disebut menganut gothic style (aliran gothic). Aliran ini, berasal dari luar negeri, tepatnya Eropa.

Ciri-ciri mereka, menggunakan aksesoris secara berlebihan. Ada yang menindik anting di hidung, alis mata, dagu, telinga, bahkan di lidah. Kemudian, rambutnya serba warna-warni, dan menggunakan baju dengan warna dominan hitam atau sekali-sekali berwarna menyolok, seperti pink, ungu. Kadang cowoknya mengenakan topi mirip yang dipakai Jhoni Depp dalam Film ‘Chocolate Factory’. Biasanya, wajah mereka di make-up dengan bedak putih sehingga mirip mayat, demikian juga warna lipstick bibirnya yang warna warni.

Lelaki maupun perempuan mengenakan sepatu boot bersol sangat tebal. Kalau mengenakan korset, talinya sama ribetnya dengan tali sepatu pemain sepakbola. Ciri lain kelompok ini adalah jari-jari yang dipenuhi cincin mulai dari jempol, kelingking, jari manis. Kalau mengenakan celana panjang hitam dari bahan tebal biasanya mulai dari pinggang sampai mata kaki diberi aksesori berupa rantai, paku sehingga kalau berjalan terdengar bunyi “cring..cring..cring…”.

Opini 1 (Mahasiswa): “Penampilan gothic style, mengekspresikan sesuatu yang ada di dalam diri, sehingga merasa percaya diri untuk tampil di lingkungan masyarakat. Selebihnya, kelompok ini hanya ingin menunjukkan sebuah penampilan yang berbeda saja dari umumnya”.

Opini 2 (Karyawan Swasta): “Ngapain menghabiskan waktu dengan berpenampilan aneh seperti itu. Memang nggak bisa berpenampilan yang wajar?”

Opini 3 (Siswi SMU): “Awalnya sih, saya merasa nggak nyaman dengan keberadaan mereka. Tapi, setelah diajak ngobrol, ternyata mereka sangat ramah. Mereka siap menolong bila ada yang mengganggu. Mereka bahkan berpesan siap menolong jika saya diganggu orang iseng. Maka, kita jangan melihat orang dari luarnya saja. Tapi, lihatlah orang itu dari kebaikan hatinya”.

Itulah sekelumit fenomena keberadaan para gothess (pecinta gothic) akan penampilannya. Berbagai pendapat berbeda telah diutarakan mengenai gothic style. Asal mereka tidak melakukan tindakan kriminal atau mengganggu kenyamanan masyarakat, penampilan dengan gaya seperti ini pun dianggap sah-sah saja. Masih banyak yang pro maupun kontra, bahkan menganggap mereka negatif.

Di samping itu, gothic style tidak melanggar hukum. Maka, muda-mudi dengan gaya penampilan seperti ini tidak dilarang oleh pemerintah. Toh, itu hanya bentuk ekspresi saja yang diungkapkan melalui penampilan.

Referensi:  www.gothicsubculture.com

 

%d bloggers like this: